Selasa, 12 April 2016

telaah kurikulum SMA 1994


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1           Latar Belakang

Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu carier yang artinya pelari dan curare yang berarti tempat berpacu. Jadi, istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman Romawi Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.
Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhaj yang berarti jalanyang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan, kurikulum pendidikan (manhaj al-dirasah) dalam kamus Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.
Kurikulum 1994 lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya yaitu mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 yang berorientasi tujuan dan pendekatan proses yang dimilikiKurikulum 1984. Beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain.
Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum sehingga Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat.Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada merevisi dan pengurangan beban sejumlah materi.
1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana tujuan kurikulum SMU 1994?
2.      Bagaimana ruang lingkup kurikulum SMU 1994?
3.      Bagaiman isi kurikulum SMU 1994?
4.      Bagaimana metode pembelajaran kurikulum SMU 1994?
5.      Bagaimana posisi mata pelajaran sejarah dalam kurikulum SMU 1994?
6.      Bagaimana evaluasi kurikulum SMU 1994
7.      Bagaimana kelemahan dan kelebihan dari kurikulum SMU 1994?
1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui tujuan kurikulum SMU 1994
2.      Untuk mengetahui ruang lingkup kurikulum SMU 1994
3.      Untuk mengetahui isi kurikulum SMU 1994
4.      Untuk mengetahui metode pembelajaran kurikulum SMU 1994
5.      Untuk mengetahui posisi mata pelajaran sejarah dalam kurikulum SMU 1994
6.      Untuk mengetahui evaluasi kurikulum SMU 1994
7.      Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan dari kurikulum SMU 1994




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tujuan Kurikulum SMU 1994
2.1.1 Tujuan Nasional
                 berdasaarkan pada pasal 4 Undang-Undang Nomor: 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi: Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
2.1.2 Tujuan institusional
Meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang Lebih tinggi
2.1.3 tujuan kurikuler
Menanamkan pemahaman tentang adanya perkembangan masyarakat masa lampau hingga masa kini, menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta rasa bangga sebagai warga negara Indonesia, dan memperluas wawasan hubungan masyarakat antar bangsa di dunia.
2.1.4 tujuan instruksional umum
Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, jujur, cermat, efektif dan efisien. Salah satu kegiatan yang memungkinkan agar tujuan tersebut bias tercapai adalh siswa diharapkan mau mengikuti ajang kompetisi dalam bidang matematika, baik di dalam kota maupun di luar kota, bahkan memungkinkan siswa diikutsertakan dalam ajang kompetisi di luar negeri.
2.1.5        tujuan instruksional khusus

1.      Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya
2.      Menjadikan peserta didik memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar
3.      Meningkatkan mutu pendidikan melalui siswa mampu menguasai materi yang diberikan
4.      Menyiapkan siswa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi
5.      Untuk membekali siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
6.      Upaya perampingan materi kurikulum
.
2.1.6        Tujuan Pembelajaran
 Meningkatkan kemamapuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitarnya.
1.      Siswa sebagai objek yang menjadi sasaran dari pelaksanaan kurikulum yang dilakukan oleh guru
2.      Guru sebagai seorang pendidik yang melaksanakan apa yang tertulis dan termuat dalam kurikulum
3.      Sekolah sebagai penyedia sarana dan prasara pembelajaran



2.3 Isi dan Struktur Kurikulum SMU 1994
2.3.1 Isi Kurikulum SMU 1994
1. Isi Program
Isi kurikulum 1994 SMU memuat mata pelajaran sebagai berikut, Pendidikan Agama, Pancasila dan Kewarganegaran, Bahasa dan Sastra Indonesia, Sejarah Nasional dan Dunia, Bahasa Inggris, Olahraga dan Pendidikan Kesehatan, Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Pendidikan Seni, Bahasa Asing, Seni Budaya, Sistem Pemerintahan, dan Antropologi.
2. Lama Pendidikan
Pendidikan Dasar merupakan pendidikan sembilan tahun yang terdiri atas program pendidikan enam tahun yang diselenggrakan di SD dan program pendidikan tiga tahun yang diselenggarakan di SLTP. Dan tiga tahun di SMU.
3. Susunan Program
Susunan progam dibagi menjadi dua yaitu Progam Kurikuler dan Progam Ekstakurikuler, secara jelasnya dibawah ini:
a. Program Kurikuler
Program kurikuler memuat jenis-jenis mata pelajaran dan disajikan dalam susunan prgram pengajaran kurikulum.
b. Program Ekstrakurikuler
Kegiatan yang diselenggarakan di luar jam pelajaran. Kegiatan ekstrakurikuler berupa kegiatan pengayaan dan kegiatan perbaikan yang berkaitan dengan program kurikuler serta berupa kegiatan yang lebih memantapkan pembentukan kepribadian seperti pramuka, usaha kesehatan sekolah, olahraga, palang merah, dan kesenian.

2.3.2  Struktur Kurikulum 1994 SMU
            Kurikulum 1994 bersifat populis yaitu memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Sistem penjurusan  Bahasa, IPA, dan IPS yang dahulu pernah ditinggalkan karena alasan adanya kandungan konotasi diskriminatif dengan mendudukkan siswa IPA lebih elite dan lebih superior daripada siswa IPS dan Bahasa ternyata kini dipakai lagi.  Realitanya dalam Kurikulum 1994 SMU maka siswa kelas tiga "dijuruskan" ke program pilihan; masing-masing ialah Program Bahasa, IPA dan IPS.
Penjurusan dilaksanakan di kelas XII diambil dengan beberapa pertimbangan berikut:
1.      secara empirik perguruan tinggi memilih calon mahasiwa yang memiliki penguasaan materi mata pelajaran SMU sebagai learning-tools secara memadai yang dapat ditranfer untuk menempuh pendidikan di pendidikan tinggi
2.      yang termasuk learning-tools adalah mata-mata pelajaran Sains, Matematika, dan Bahasa serta mata pelajaran lain yang menanamkan cara berfikir saintifik
3.      guna memperkuat bekal untuk memasuki perguruan tinggi, maka bilamana siswa SMU hanya diberi kesempatan satu tahun untuk mengikuti mata-mata pelajaran sebagaimana butir (2), tidaklah mencukupi, sehingga sebagian besar kesempatan atau peluang memasuki perguruan tinggiakan direbut oleh para siswa dari jurusan IPA atau jurusan Matematika
4.      oleh karena itu perlu diberikan kesempatan yang memadai bagi semua siswa SMU untuk memperoleh bekal sebagaimana butir (2) dalam kurun waktu dua tahun, yaitu dikelas X dan XI SMU. Dengan demikian maka penjurusan SMU diadakan dikelas XII. Jurusan dalam kurikulum 1994 disebut Progam.



Beberapa pertimbangan yang digunakan dalam penentuan program atau jurusan di SMU, antara lain adalah;
1.      Kebutuhan perguruan tinggi dalam menyeleksi calon mahasiswa terutama periode seleksi mahasiswa sampai dengan tahun 1990-an;
2.      Nampaknya seleksi masuk perguruan tinggi dalam masa tersebut butir 1 berfokus pada 3 (tiga) kelompok penguasan materi, yaitu; (a) penguasaan materi terkait dengan bahasa dan sastra; (b) penguasaan terkait dengan sains dan matematika; dan (c) penguasaan materi terkait dengan ilmu-ilmu sosial. Dengan catatan, setiap siswa SMU sudah memperoleh bekal sains dan matematika secara memadai di kelas X dan kelas XI SMU.      
Struktur Program Sekolah Menengah Umum Kelas X dan XI  
No
Mata Pelajaran
Jumlah Jam Pelajaran

Kelas

I
II


Pancasila dan Kewarganegaraan
2
2

Pendidikan Agama
2
2

Bahasa dan sastra Indonesia
5
5

Sejarah nasional dan dunia
2
2

Bahasa inggris
4
4

Olah raga dan pendidikan kesehatan
2
2

Matematika
6
8


IPA
Fisika
Biologi
Kimia

5
4
3

5
4
3



Ilmu ilmu social
Ekonomi
Sosiologi
Geografi

3
-
2

3
2
-


Pendidikan seni
2
-


Total
42
42


            Sebagaimana nampak dalam tabel di atas, untuk membekali peserta didik dengan learning tools yang dipersyaratkan untuk memasuki perguruan tinggi, mata pelajaran Bahasa Inggris diberikan 5 jam pelajaran per-minggu di kelas X dan 5 jam pelajaran di kelas XI. Mata pelajaran Bahasa Inggris juga diberikan masing-masing 4 jam pelajaran per-minggu di kelas X dan kelas XI. Mata pelajaran Matematika diberikan 6 jam pelajaran per-minggu di kelas X dan XI. Demikian pula, mata pelajaran dalam kelompok IPA, yaitu Fisika diberika 5 jam pelajaran per-minggu selama di kelas X dan XI; mata pelajaran Biologi diberikan 4 jam pelajaran per-minggu di kelas X dan XI; dan mata pelajaran kimia diberikan 3 jam pelajaran per-minggu di kelas X dan XI. Satu jam pelajaran = 45 menit.
Struktur Program Sekolah Menengah Umum (SMU) Kelas XII 
a. Program Bahasa
No
Mata Pelajaran
Jumlah Jam Pelajaran
Kelas
III
1
Pancasila dan Kewarganegaraan (umum)
2
2
Pendidikan Agama (umum)
2
3
Bahasa dan Sastra Indonesia (umum)
3
4
Sejarah nasional dan dunia (umum)
2
5
Bahasa inggris  (umum)
5
6
Olah raga dan kesehatan (umum)
2*)
1
Bahasa dan sastra Indonesia (khusus)
8
2
Bahasa inggris (khsusus)
6
3
Bahasa asing lain (khusus)
9**)
4
Seni budaya (khusus)
5

Total
42

*) Mata pelajaran Olah raga dan Pendidikan Kesehatan sebagai kegiatan ekstra kurikuler dan disesuaikan dengan kondisi sekolah. 
**) Sekolah menentukan jenis bahasa asing lain yang diajarkan di sekolah yang bersangkutan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Siswa memilih mata pelajaran bahasa asing lain yang ditawarkan sekolah. Program Bahasa mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan tinggi yang berkaitan dengan bahasa dan budaya, baik dalam bidang pendidikan akademik maupun pendidikan professional. Program ini juga memberikan bekal kemampuan kepada siswa secara langsung atau tidak langsung untuk bekerja di masyarakat.
b. Program IPA
No
Mata Pelajaran
Jumlah jam pelajaran
Kelas
III
1
Umum
Pancasila dan kewarganeegaraan

2


 Pendidikan agama
2
Bahasa dan sastra Indonesia
3
Sejarah nasional dan dunia
2
Bahasa ingris
5
Olah raga dan pendidikan kesehatan
2*)
Khusus
Fisika

7

 Bioligi
7
Matematika
8
Total
42
*) Mata pelajaran Olah raga dan Pendidikan Kesehatan sebagai kegiatan ekstra kurikuler dan disesuaikan dengan kondisi sekolah. 
            Program Ilmu Penegathuan Alam (IPA) mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi yang berkaitan dengan matematika dan ilmu pengetahuan alam baik dalam bidang akademik maupuan pendidikan professional. Program ini juga memberikan bekal kemampuan kepada siswa secara langsung maupun tidak langsung untuk bekerja di masyarakat.     
c.  Program Ilmu-Ilmu Sosial
No
Mata Pelajaran
Jumlah Jam Pelajarran
Kelas
III
1
Umum
Pancasila dan Kewarganegaraan

2
Pendidikan Agama
3
Bahasa dan sastra Indonesia
2
Sejarah nasional dan dunia
5
Bahasa inggris
2
Olah raga dan pendidikan kesehatan
2*)
2
Khusus
Ekonomi

10
Sosiologi
6
System Pemerintahan
6
Antropologi
6

Total
42
   *) Mata pelajaran Olah raga dan Pendidikan Kesehatan sebagai kegiatan      ekstra kurikuler dan disesuaikan dengan kondisi sekolah. Program ini mempersiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan social, baik dalam bidang pendidikan akademik maupun professional. Program ini juga memberikan bekal kemampuan kepada siswa secara langsung atau tidak langsung untuk bekerja di masyarakat.
2.4  Metode Pembelajaran pada Kurikulum 1994 SMU

1.      Field Trip ialah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, peternakan, perkebunan, lapangan bermain dan sebagainya (Roestiyah, 2001:85). Winarno (1980: 115-116) mengatakan bahwa metode karyawisata atau field trip adalah metode belajar dan mengajar di mana siswa dengan bimbingan guru diajak untuk mengunjungi tempat tertentu dengan maksud untuk belajar.
2.      Sosio drama adalah suatu cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan social
3.      Menonton film, film sebagai alat audio visual untuk pelajaran, penerangan, atau penyuluhan. Banyak hal-hal yang dapat dijelaskan melalui film, antara lain tentang proses yang terjadi dalam tubuh kita atau yang terjadi dalam suatu industri, kejadian-kejadian dalam alam, tata cara kehidupan di negara asing, berbagai industri dan pertambangan, mengajarkan suatu ketrampilan, sejarah kehidupan orang-orang besar dan sebagainya.
4.      Diskusi adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah, yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain : 2006).
5.      Observasi ialah pengamatan langsung menggunakan alat indera atau alat bantu untuk penginderaan suatu subjek atau objek. Observasi juga merupakan basis sains yang dilakukan dengan menggunakan panca indera atau instrument sebagai alat bantu penginderaan ( Purnomo, 2008).
6.      Ceramah  Menurut Nana Sudjana ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini tidak akan baik apabila penggunaannya dipersiapkan dengan baik, didukung dengan alat dan media, serta memperhatikan batas-batas penggunaannya. ( Nana Sudjana 2000:77).
7.      Resitasi(penugasan)  suatu cara dari guru dalam proses belajar mengajar untuk mengaktifkan siswa dalam belajar baik di sekolah maupun di rumah dan untuk dipertanggung jawabkan kepada guru.
8.      Wawancara dimana guru mengajukan beberapa pertanyaan secara lisan kepada seluruh murid di kelas. Ada dua macam langkah yang dapat diterapkan oleh guru dalam melaksanakan metode interview, yakni yang pertama  langkah yang bersifat individual dan kedua langkah yang bersifat kelompok.
9.      Games adalah  metode belajar dengan melakukan kegiatan yang menggembirakan yang dapat menunjang tercapainya tujuan instruksional matematika yang menyangkut aspek kognitif, psikomotorik, atau efektif

2.5 Posisi Mata Pelajaran Sejarah

Mata pelajaran IPS untuk SMU menggunakan pendekatan terpisah-pisah atas mata pelajaran sejarah nasional dan umum untuk kelas I dan II,ekonomi dan geografi untuk kelas I dan II, sosiologi kelas II,sejarah budaya untuk kelas III program bahasa,ekonomi,sosiologi,tata niaga dan antropologi untuk program IPS.
            Dalam kurikulum SMU 1994 terdapat program pengajaran umum dan program pengajaran khusus. Pengajaran umum untuk kelas I dan II,dan pelajaran khusus untuk kelas III. Kedudukan IPS dalam kurikulum ini memiliki 2 pengertian yaitu sebagai bagian dari program khusus dan sebagai bahan kajian pada program pengajaran umum. IPS sebagai program khusus diarahkan untuk mempersiapkan siswa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
            Ruang lingkup kajian IPS meliputi hal-hal yang berkaitan dengan keluarga, masyarakat setempat, uang, tabungan, pajak, ekonomi setempat, wilayah propinsi, wilayah kepulauan, dan pengenalan kawasan dunia.  Ruang lingkup pengajaran sejarah meliputi: sejarah local ,kerajaan di Indonesia, tokoh dan peristiwa, bangunan sejarah, Indonesia pada zaman penjajahan dan beberapa peristiwa penting masa kemerdekaan. Untuk mata pelajaran sejarah di kelas 1 dan  2 SMA masing-masing memiliki intensitas pertemuan 2 jam perminggu. Sedangkan penjurusan di kelas tiga untuk semua program jurusan baik bahasa, IPA, maupun IPS, Sejarah merupakan mata pelajaran kategori mapel umum yang intensitas pertemuannya 2 jam per minggu.

2.6 EVALUASI
2.6.1 Evaluasi kurikulum
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut :
1.      Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran.
2.      Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan   tingkat perkembangaberpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
3.      Proses pembelajaran bersifat klasikal dengan tujuan menguasai materi pelajaran, guru sebagai    pusat pembelajaran. Target pembelajaran pada penyampaian materi.
4.      Evaluasi atau sistem penilaian menekankan pada kemampuan kognitif. Keberhasilan siswa diukur dan dilaporkan atas dasar perolehan nilai yang dapat diperbandingkan dengan nilai siswa lain. Ujian hanya menggunakan teknik paper dan pencil tes.

Setelah kurikulum 1994 berjalan selama 5 tahun, direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah pada tanggal 14 Juli 1999 menerbitkan Penyempurnaan Penyesuaian Kurikulum 1994 atau Suplemen GBPP. Hal ini dilakukan karena adanya tanggapan, kritik, dan saran dari praktisi, pakar, ahli, serta masyarakat terhadap kurikulum 1994. Tanggapan dan kritik tersebut pada umumnya berkenaan dengan padatnya isi kurikulum. Kepadatan isi kurikulum 1994 dapat dilihat pada banyaknya mata pelajaran dan juga substansi dari setiap mata pelajaran. Penyempurnaan yang lain adalah dalam hal materi yang kurang sesuai, baik dengan tahap perkembangan anak maupun dengan kebutuhan pembangunan nasional dan perkembangan iptek. Kurikulum yang berlaku diaggap kurang mengakomodasi keragaman potensi peserta didik, aspirasi dan peran serta masyarakat.
Dengan pertimbangan hal tersebut telah dilakukan evaluasi, pengkajian dokumen dan pelaksanaan kurikulum sebagai bagian dari proses pengembangan kurikulum dan kemudian dilanjutkan dengan penyesuaian kurikulum sebagai upaya untuk menanggapi tuntutan pembangunan nasional dan perkembangan iptek serta kritik dan saran dari para praktisi, pakar, ahli, dan masyarakat. Penyempurnaan atau penyesuaian kurikulum 1994 meliputi semua mata pelajaran, namun alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran dalam satu minggu tidak mengalami perubahan. Adapun bentuk penyesuaiannya antara lain meliputi:
a.       Penghapusan subpokok bahasan
b.      Penyederhanaan subpokok bahasan
c.       Penggabungan dan pemindahan pokok bahasan
d.      Menunda pembahasan materi tertentu pada kelas yang lebih tinggi
e.       Menjadikan materi wajib menjadi pengayaan dan sebaliknya
f.       Menata urutan dan distribusi pokok bahasan
g.      Penyempurnaan kalimat dalam GBPP yang dianggap kurang jelas.

2.6.1 Evaluasi pembelajaran
Penilaian dilakukan dalam ulangan harian, ulangan catur wulan, serta EBTA dan EBTANAS. Ulangan harian dan catur wulan dilakukan oleh guru dan dijadikan sebagai dasar untuk pemberian nilai dalam rapor dan kenaikan kelas, sedangkan EBTA dilakukan oleh sekolah untuk mata pelajaran yang tidak di-EBTANAS-kan. EBTANAS dikoordinasikan secara nasional oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu dasar dalam menentukan kelulusan siswa. Bentuk soal yang digunakan adalah soal uraian dan pilihan ganda. Bentuk soal uraian biasa digunakan dalam ulangan harian, maksudnya agar siswa memperoleh kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya secara tertulis. Adapun bentuk soal pilihan ganda terutama digunakan dalam EBTANAS. Maksudnya adalah demi obyektivitas dalam memberikan penilaian. Dalam EBTANAS juga masih ada soal uraian, tetapi uraian terbatas

Hasil akhir nilai sejarah ditentukan oleh komponen :
            Nilai Rapor (NR)=      3X+3Y+4Z
                                                      10
1. Portofolio, latihan, tugas, PR, presentasi dan kehadiran      30% (X)
2. Ulangan, ujian mid semester & pengamatan                         30% (Y)
3. THB(Uji Kompetensi dan tertulis)                                       40% (Z)        
2.7 Kelemahan dan Kelabihan Kurikulum SMU 1994
2.7.1 Kelemahan Kurikulum 1994
·         Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi setiap mata pelajaran.
·         Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
2.7.2        Kelebihan Kurikulum 1994
·         Siswa lebih banyak memperoleh informasi, karena materi yang di berikan lebih banyak
·         Siswa memperoleh ketrampilan di bidang nonakademis melalui pendidikan muatan local.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kurikulum 1994 lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya yaitu mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 yang berorientasi tujuan dan pendekatan proses yang dimilikiKurikulum 1984. Beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain.
Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum sehingga Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat.Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada merevisi dan pengurangan beban sejumlah materi.



DAFTAR PUSTAKA


PERBANDINGAN KURIKULUM 1975,1984,1994, 2004 dan 2006 _ Dedhy_dJaRa.html
kurikulum 1994 _ fijrakembar.htm
Kurikulum 1994 _ Ria Ade Aprillia.htm
Tim Penyusun. 2009. Perkembangan Kurikulum SMP: Struktur Program, Proses Pembelajaran, dan Sistem Penilaian Sejak Zaman Penjajahan Sampai dengan Era Reformasi. Jakarta: Depdiknas (diposkan oleh Rima Triani)
ournal.amikom.ac.id/index.php/Koma/article/view/3769/pdf_1342
http://www.pustakaskripsi.com/perbandingan-kualitas-pelaksanaan-kurikulum-berbasis-kompetensi-kbk-dengan-kurikulum-1994-pada-mata-pelajaran-sejarah-sekolah-menengah-atas-sma-2781.html

0 komentar:

Posting Komentar